Senin, 27 Januari 2014

PENGERTIAN DAN FUNGSI PERENCANAAN PEMBELAJARAN



PENGERTIAN DAN FUNGSI PERENCANAAN PEMBELAJARAN
·        Pengertian perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran merupakan catatan-catatan hasil penukiran awal seorang guru sebelum mengelola proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran merupakan persiapan mengajar yang berisi hal-hal yang perlu ada harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang sama meliputi: pemilihan materi, metode, media, dan alat silabus.
·        Menurut pendapat para ahli
-          Banghart dan Albert Trull mendevinisikan perenanaan pengajaran sebagai usaha menggambarkan sifat-sifat aktivitas perencanaan pengajaran yang luas dan mencakup berbagai aktifitas perencanaan dalam sistem pendidikan .
-          Philip combs mendevinisikan perencanaan pengajran merupkan suatu penerapa yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agarpendidikan itu lebi efektifdan efisien sesuai denga kebutuhan dan tujuan para murod dan masyarakat.

·        Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN)
Pengertian perencanaan pembelajaran sebagai suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan  pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan kenyataan yang ada dibidang sosial ekonomi sosial budaya dan kebutuhan pembangunan secara mnyeluruh terhadap pendidikan nasional.
Berdasarkan penjelasan (pendapat) diatas, perencanaan pembelajaran dapat dirtikan sebagai suatu kombinasi yang tersusun secara sistematis yang meliputi unsur unsur manusiawi , material , fasilitas , perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran .


FUNGSI PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Salah satu faktor yang membawa keberhasilan guru adalah senantiasa membuat perencanaan pengajaran , sebelumnya, pada garis besar perencanaan pembelajaran itu bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran .
Secara ideal tujuan perencanaan pembelalara adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar , metode dan penggunaan alat dan pelengkapan penbelajaran , mnyampaikan kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola , alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan siswa sesuia yang di programkan .
            Menurut oemar Hamalik (2001) beliau mengemukakan perencanaan pembelajaran berfungsi sebagai:
-          Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah.
-          Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pembelaparanya terhadap pendidik
-          Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pembelaparan yang diberikan dan prosedur yng di gunakan.
-          Membant guru dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat siswa. Dan mendorong motivasi siswa
-          Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantisa memberikan bahan-bahan yang update pada siswa.
Maka tujuan yang paling mendasar dari sebuah perencanaan pembelajaran adalah sebagai pedoman atau petunjuk guru serta mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam peroses pembelajaran.

MENETAPKAN STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN



MENETAPKAN STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran di dalam kelas ada dua macam kegiatan pokok yang harus di lakukan guru secara bersama-sama  yaitu pengelolaan pembelajaran dan pengolaan kelas.pengelolaan  Pembelajaran atau mengajar adalah menggerakkan siswa untuk mencapai tujuan intruksional.
Sedangkan pelaksanaanya kelas adalah menciptakan dan mempertahankan kondisi agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung efektif dan efesien. Pegelolaan kelas tidak langsung mencapai tujuan pembelajaran seperti  halnya pengelolaan pembelajaran, tetapi membuat kondisi supaya pengelolaan pembelajaran dapat berlangsungdengan baik, Sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Kelas merupakan satu kesatuan sekolah terkecil, yang terdiri atas sekelompok untuk mendapatkan pelajaran yang sama,dari guru yang sama, dan pada waktu yang sama pula. Secara garis besar pengelolaan kelas dapat digolongkan menjadi; (1) pegorganisasiankelas, (2) aktifitas kelas, (3) pengendalian terhadap prilaku yang menyimpang yang disebabkan oleh adanya permasalahan dalam kelas. Sedangkan sumbar permasalahan dalam kelas dapat dibedakan menjadi dua yaitu permasalahan yang bersumber dari manusia  dan non manusia seperti tempat belajar mengajar dan lingkungan sekitar.
PENGEMBANGAN DAN PROSEDUR PEGUKURAN HASIL PEMBELAJARAN
Penilaian meliputi semua aspek batas batas belajar. Menurut schartz dkk penilaian adalah suati perogram untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah atau suatu pengalaman. Yang di maksud dengan pengalaman adalah pengalaman yang di peroleh berkat pendidikan, atau sebagai hasil belajar siswadi sekolah. Pengalaman tersebut tampak peda perubahan tingkah laku tau pla kepribadian siswa. Dalam hal ini, penilaian adalah sutu upaya untuk memeriksa sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan atau tujuan belajar.
Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar. Secara sistematik, evaluasi pembelajaran diarahkan pada kompnen-komponen sistem pembelajaran, yang mencangkup:
1)     Komponen imput, yaitu perilaku awal siswa.
2)     Komponen imput instrumental, yaitu kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan.
3)     Komponen kurikulum ( program studi, metode, media)
4)     Komponen administratif ( alat, waktu, dana)
5)     Komponen proses yaitu proedur pelaksanaan pembelajaran, serta
6)     Komponen output, yakni hasil pembalajaran yang menandai tercapinya tujuan pembelajaran.
Sasaran evalasi pembelajara adalah untuk menjawab pertayaan tentang apa yang dinilai dalam sistem pembelajaran ada empat hal-hal pokok yang menjadi sasaran evaluasi pembelajaran yaitu: tujuan pembelajaran, unsur dinamis pembelajaran, pelaksanaan pembeljaran dan pelaksanaan kurikulum.
Penilaian dalam kurikulum berbasis kompetensi dilakukan dengan rambu-rambu berikut.
1.      Mengunakan acuan keriteria atau patokan (PAP), yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan siswa setelah trlibat dalam pembelajaran dan bukan untuk menentukan psisi seseorang terhadap kelompoknya.
2.      Penilaian berlangsung secara periodik dan berkelanjutan artinya, semua indikaor dibuat butir soalnya, untuk menentukan kemampuan dasar sudah di capai atu belum.
3.      Pelporan bersifat terbuka  Artinya, asil yang di capai dapt ditelusuri dari indikator yang di capai.
4.      Ada asessor, yaitu penilaian guru.
5.      Menggunakan berbagai penilaian.
6.      Menggunakan berbagai ala penilaian yang dapat memberikan informasi yang sahih dan handal. Untuk mengukur aspek kognitif dapt digunakan soal-soal tes, baik lisa ataupun tulisan, spek efektif dapat dilakukan melalui opservasi dan koesioner.
Menurut mardapi (2004) pengembangan sistem penilaian berbasis kompetensi asar mencangkup masalh berikut.
1.      Penetapan kopetensi dasar yang harus dimiliki pserta didik
2.      Rencana pemberian tugas, kuis, dan ulangan hariandalam satu semester.
3.      Proses penilaian yang meliputi: pemilihan dan pengembangan teknik penilaian, sistem pencatatan, dan pengelolaan.
4.      Proses analisis yang mencangkup kegiatan analisis terhadap hasil penilaian.
5.      Penctatan dan pelaporan, yaitu pegolaan sistem penilaian dan pembuatan laporan.

Teknik dan alat evaluasi
Teknik metode atau alat evalasi adalah segala macam cara atau prosedur yang ditempuh memperoleh keterangan tau data yang dipergunakan sebagai bahan untuk melakukan penilaian. Teknik yang digunakan dalam penilaian akan sangat mempengaruhi kualitas hasil yang di peroleh. Mengingat evaluasi bertijuan untuk mendapat kan gambaran yang lengkap dari sisw, maka teknik pengujian yang di lakuakan harus di upayakan selaras dengan potensi siswa.
Pada dasar teknik atau metod penelitian dapat dibedakan menjadi dua, yaituteknik atau metode tes dan teknik atau metode nontes. Tes hasil belajar dapat digunakan secara individual ataupun kelompok, berbebtuk verbal ataupun tidak, objektif ataupun esai, dilaksanakan secara tertulis ataupun lisan secara fomal ataupun informal, tes formal yaitu tes yang di laksanakan secara formal, yang biasanya terkesan kaku an menegangkan, sedangkan tes informal adalah tes yang di laksanakan sesantai mungkin, dimana siswa merasakan seperti tidak dalam suasana ujian.
      Salah satu prinsip penilaian dalah menyeluruh dan berkesinambungan. Meyeluruh mengandung arti bahwa penilaian mencangkup segal aspek, yaitu kognitif, efektif, dan pisikomotorik. Alat-alat penilaian notes adalah pengamatan, wawancara, angket, pemberian tugas ,membaca, menyimpulkan, meringkas, keliping, melakukan penilaian dan sikap.


Syarat Perencanaan Pembelajaran



Syarat Perencanaan Pembelajaran
      Yang dimaksud dengan syarat perencanaan pembelajaran adalah seperangkat pengetahuan atau kemampuan yang harus dimiliki perancang pembelajaran, yang meliputi : (1) kemampuan analitik, (2) kemampun pengembangan dan (3) kemampuan pengukuran.

Kemampuan Analitik
      Kemampuan Analitik adalah kemampuan seseorang melakukan analisis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan atau perbuatan, dsb) untuk mengetahui sebab-sebabnya, duduk perkaranya  dsb. Sehingga menganalisis berarti menyelidiki dengan menguraikan bagian-bagiannya dsb. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran dalam rangka memprediksi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran adalah :

1. Tujuan belajar dan karakteristik mata pelajaran
            Tujuan adalah perangkat hasil yang hendak dicapai setelah siswa melakukan kegiatan belajar. Tujuan yang disadari oleh siswa sangat bermakna dalam upaya menggerakkan kegiatan belajar mereka untuk mencapai hasil yang optimal. Upaya yang dapat dilakukan untuk menarik perhatian siswa kepada tujuan pelajaran antara lain sebagai berikut :
a. Bagi siswa SD akan lebih efektif jika digunakan situasi kehidupan nyata berdasarkan pengalaman siswa sendiri atau dari contoh media. Kemudian siswa mendiskusikannya sehingga mereka lebih terfokus pada pelajaran karena merasa jelas nilai pelajaran tersebut baginya.
b. Mempertunjukkan nilai pelajaran itu bagi diri pribadi siswa, misalnya meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan memperbaiki cara berkomunikasi, sehingga siswa melihat dan merasakan pentingnya pelajaran tersebut dan melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.
            Dalam kurikulum 2006, tugas guru dalam membuat tujuan adalah mejabarkan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum kedalam indicator, yang diperkirakan dapat membawa siswa mencapai kompetisi dasar tersebut. Karateristik pembelajaran juga merupakan pertimbangan dalam menetapkan perencanaan yang lain, karena masing-masing mata pelajaran memiliki cirri-ciri yang berbeda satu sama lain. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, maka pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada ruang lingkup mendengarkan, berbicara, membaca, menulis.

2. Kendala dan sumber-sumber belajar yang tersedia
            Tujuan atau indikator merupakan syarat utama dalam menetapkan perencanaan pembelajaran. Namun demikian, kita tidak bisa mengabaikan kendala dan sumber-sumber belajar yang tersedia. Misalnya, secara idealis menurut indikator yang akan dicapai maka metode yang akan dipilih adalah metode praktikum dengan menggunakan alat-alat laboratorium. Dalam pelajaran IPA, misalnya terdapat kompetisi dasar yang menjelaskan perlunya memelihara lingkungan di sekitar rumah dan sekolah. Selanjutnya, guru menetapkan sebagian indikatornya sebagai berikut :
a. Merawat tanaman atau hewan peliharaan.
b. Menceritakan alasan perlunya merawat dan memelihara lingkungan.
            Apabila faktor yang diperhatikan hanya indikator, maka guru menetapkan metode yang digunakan labotorium lapangan dengan menggunakan kebun seekolah sebagai medianya. Tetapi, untuk sekolah yang tidak memiliki lahan, guru harus dapat merencanakan metode lain, misalnya merawat tanaman secara berkelompok di rumah siswa yang memiliki cukup lahan atau yang memiliki kandang hewan.



3. Karakteristik siswa
            Siswa adalah individu yang unik, tak ada dua orang yang sama persis. Tiap siswa memiliki perbedaan satu sama dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada fisik,psikis,kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan itu berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, perbedaan individu siswa harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat di perbaiki dengan beberapa cara. Antara lain metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media intruksional akan membantu melayani perbedaan individu siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan bagi siswa yang pandai,dan bimbingan belajar bagi siswa yang kurang mampu. Disamping itu, pemberian tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun yang kurang, akan merasakan keberhasilan dalam belajar. Dengan demikian, dalam merencanakan pembelajaran guru hendaknya memperhatikan perbedaan individual. Suparno (2004:14) mengatakan anak merasa tidak diajar gurunya, karna guru mengajar dengan intelegensi yang tidak cocok dengan intelegensi dominan anak.
            Menurut Gardner (dalam Suparno, 2004:45), dalam diri seorang terdapat sembilan intelegensi. Menurut teori Multiple intelegence, seseorang akan dapat mempelajari materi apapun, asal materi itu di sampaikan sesuai dengan intelegensi yang menonjol pada diri anak itu. Contoh siswa yang memiliki intelegensi kinestetik badani dapat mempelajari fisika dengan lebih mudah bila pelajaran itu di sajikan dengan tari dan gerak. Yang jelas, dengan multiple intelegensi pendidik dapat menaruh perhatian pada perbedaan di antara dan mencoba menggunakannya dalam pembelajaran dan pendidikan serta evaluasi yang lebih personal. Sehubungan dengan perbedaan individu ini, prinsip belajar  siswa harus dikuasai guru. Prinsip belajar itu antara lain : perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/pengalaman, pengulangan, tantangan, balikan, dan penguatan. Prinsip-prinsip tersebut harus kita perhatikan dalam merencanakan pembelajaran.

Kamis, 18 Juli 2013

Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia



Sahabatku…
Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.

Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang “remeh”. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: “Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda ‘berbeda’.”

Jujurlah dan katakan pada mereka, “Maaf, ini bukan bidang saya. Saya bodoh pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak.” Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Percayalah kepadaku tentang hal ini. “Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Tidak pernah ada sejarah yang mencatat orang seperti Anda sebelumnya dan tidak akan ada orang seperti Anda di dunia ini pada masa yang akan datang.” (Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya, La Tahzan)

Wahai sahabatku…
Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. “Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (QS. 3: 188).

Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.

Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. “Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan.” (Dr. Aidh Al Qarni).

Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.

Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Allah semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya. Karena Allah sendiri telah berfirman: “Kebanyakan manusia tiada mengetahui.” Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dia telah mendengar firman Allah yang berbunyi: “Janganlah kalian mengklaim diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. 53: 32).

Jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri. “Dan janganlah kalian (orang-orang beriman) berperilaku seperti orang-orang (kafir) yang keluar dari kampung halaman mereka dengan rasa angkuh dan bersikap riya kepada manusia.” (QS. 8: 47).

Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: “tetapi aku merasa kehilangan Julaibib!” Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: “Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Cukuplah bagi Julaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.

Wahai sahabat…
Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib? (Imam Syamil)


kafemuslimah.com